RSS Feed

…. Renungan Indah Untuk Para Muslimah …

Posted on

…. Renungan Indah Untuk Para Muslimah … Bismillahir-Rahmanir-Rahim… Ukhtii al-Muslimah… Ada seorang wanita shalihah dan bertaqwa. Ia sangat mencintai kebaikan. Ia pun tak pernah lengah dari dzikir kepada Allah. Ia tidak pernah membiarkan kata-kata yang tak bermanfaat keluar dari mulutnya. Ketika disebut neraka, ia merasa sangat ketakutan, lalu mengangkat kedua tangannya penuh kekhusyuan memohon kepada Allah agar dijauhkan darinya. Apabila disebut surga, dia menangis dan sangat ingin mendapatkannya, kemudian menengadahkan tangannya, berdo’a dengan khusyu agar Allah menjadikannya sebagai ahli surga. Ia mencintai orang lain dan mereka pun mencintainya, hatinya telah bersatu dengan hati mereka, begitu juga sebaliknya. Suatu hari, tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa pada bagian paha. Setelah ia memijit bagian yang sakit dan mengompresnya, rasa sakit tersebut tak kunjung reda bahkan semakin menjadi-jadi. Setelah berobat ke berbagai rumah sakit, sang suami membawanya ke London atas rekomendasi para dokter. Setelah melalui pemeriksaan yang detil di sebuh rumah sakit besar di London, dokter menemukan pembusukan darah pada bagian paha dan mereka mencari penyebab pembusukan. Hingga akhirnya para dokter memvonis bahwa wanita tersebut terserang kanker di paha. Ternyata itulah yang menjadi sumber rasa sakit selama ini. Mereka pun sepakat untuk mengamputasi kaki wanita tersebut dengan memotong bagian pangkal paha agar kanker tersebut tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Di dalam ruang operasi, wanita tersebut pasrah menerima keputusan dan takdir Allah, tetapi lisannya tak pernah berhenti berdzikir kepada Allah dan ia benar-benar khusyu’ memohon perlindungan-Nya. Pada saat itu hadir beberapa orang dokter, karena amputasi bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi juga penuh resiko. Setelah pisau amputasi diasah dan dipasang pada gunting khusus, wanita tersebut dibius. Dengan penuh ketelitian, di tengah keadaan yang mencekam, lampu pun dinyalakan. Gunting tersebut hampir tidak bergerak, hingga akhirnya pisau itu terputus (patah) di saat semua yang hadir dalam keadaan tegang. Proses tersebut diulangi kembali dengan menggunakan pisau yang baru, tetapi kejadian tersebut terulang lagi sampai tiga kali, dan itu adalah kejadian pertama dalam sejarah peramputasian selama ini. Terlihatlah keheranan pada wajah para dokter yang sedang beristirahat dan bertukar pendapat. Para dokter tersebut menghindar dari keramaian untuk bermusyawarah. Setelah itu mereka memutuskan untuk mengoperasi paha yang sebelumnya akan mereka amputasi. Betapa mencekam suasana waktu itu, pisau yang akan digunakan hampir tidak sampai ke tengah paha, hingga para dokter itu melihat dengan mata kepala mereka sendiri sebuah lubang yang membusuk dan sangat menjijikkan. Setelah proses operasi yang berjalan lancar tersebut selesai, para dokter membersihkan bekasnya. Perempuan tersebut kembali sehat dan rasa sakit yang selama ini dirasakan hilang tak lagi berbekas. Setelah wanita tersebut melihat kakinya, ia merasa seakan tak pernah ada penyakit yang bersarang di sana. Kemudian ia melihat suaminya sedang berbicara dengan para dokter yang masih tampak tegang. Setelah para dokter beristirahat, mereka menanyakan kepada suami wanita tersebut, apakah sebelumnya ada suatu kejadian yang membuat ia harus dioperasi bedah pada bagian paha. Berdasarkan keterangan dari suami wanita tersebut, dokter mengetahui bahwa beberapa tahun lalu wanita tersebut pernah merasakan sakit yang luar biasa pada bagian tersebut. Mereka sepakat bahwa semua yang dialami wanita tersebut adalah karena pertolongan Allah swt (bukan karena kecanggihan dan kehebatan medis. Pent). Betapa bahagianya wanita itu ketika bahaya telah berlalu karena ia merasa tak akan berjalan dengan satu kaki seperti yang dahulu ia khawatirkan. Ia pun mengisi waktunya dengan selalu memuji Allah. Ia merasa begitu dekat dengan Allah swt, dengan kelembutan dan kasih sayang-Nya. Ukhtii al-Muslimah… Kisah wanita ini adalah salah satu contoh dari para wali Allah yang memiliki komitmen terhadap perintah-Nya. Mereka mengutamakan keridhaan Allah di atas keridhaan yang lain. Hati mereka telah terisi dengan kecintaan kepada Allah. Mereka selalu memanjatkan syukur kepada Allah di kala manusia lain terlelap dalam tidur mereka. Mereka tidak pernah futur dari berdzikir, sehingga dzikir menjadi nyanyian terindah, lisan mereka tidak pernah bosan mengulang-ulang dzikir, bahkan mereka mendapatkan kelezatan dan rasa manis di dalamnya. Mereka selalu rindu untuk melaksanakan perintah Allah dan menjalankan hukum-hukum-Nya dengan penuh kecintaan. Maka Allah tidak akan meninggalkan mereka, tetapi senantiasa melindungi dan menolong mereka dengan kekuasaan-Nya, serta meridhai mereka dan menempatkan di surga-Nya. Ukhtii al-Muslimah… Dalam hidup ini, manusia sering tertipu oleh kekuatan yang ada dan harta yang tidak kekal. Dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling berkuasa dengan kedudukannya, paling tajam lidahnya, paling dermawan, paling jelas hujjahnya, paling banyak memberikan pertolongan, dan paling sedikit kebutuhannya. Hingga pada suatu saat ketika ia tertimpa musibah yang sangat ringan, ia merasa kehilangan kedudukan, kekuasaan, dan kemegahan yang ia miliki. Ia seperti anak kecil yang mencari ayahnya, meminta bantuan orang lain, bahkan sangat berlebihan dalam menceritakan nasib buruknya itu demi mendapatkan belas kasihan orang lain. Sesungguhnya manusia itu, tanpa bersandar kepada Allah swt dan tanpa lindungan-Nya, akan menjadi hewan yang selalu mengikuti hawa nafsunya, mencintai diri sendiri dan egois. Berbeda dengan seorang muslim sejati yang selalu berpegang teguh kepada ajaran agama. Ia senang apabila saudaranya mendapatkan kebaikan dan sedih apabila saudaranya tertimpa keburukan, ia akan selalu mengulurkan kedua lengannya untuk senantiasa membantu setiap kesulitan dan mempercepat langkah kakinya untuk segera menyelesaikan masalah orang-orang yang teraniaya. Ukhtii al-Muslimah… Ketenangan hati dan jiwa merupakan salah satu keistimewaan seorang muslim dan muslimah yang hati mereka selalu terpaut pada Allah, mereka merealisasikan syariat-syariat Allah dalam kehidupannya, dan menjalankan apa yang Allah perintahkan. Mereka selalu tersenyum walau dalam kondisi yang sulit, karena mereka mengetahui bahwa apa yang tidak harus menimpa mereka tidak akan menimpa mereka, dan apa yang harus menimpa mereka tidak akan menyimpang dari mereka. Maka mereka tidak menyesal apabila kehilangan sesuatu yang mereka cintai dan tidak terlalu gembira atas hilangnya sesuatu yang mereka benci, karena mungkin saja di balik sesuatu yang mereka cintai ada suatu keburukan dan di balik yang mereka benci ada suatu kebaikan. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui“. (QS. Al-Baqarah: 216). Mereka tidak terpedaya oleh gemerlap dunia walaupun kehidupan dunia itu sendiri tidak mereka lalaikan. “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi”. (QS. Al-Qashash: 77). Mereka mengetahui bahwasanya dunia dengan umurnya yang pendek dan penuh kesengsaraan, tidak boleh menjadikan seseorang marah atas apa yang terjadi dan juga tidak berhak untuk menyesali sesuatu yang luput dari dunia ini. Sebab kehidupan dunia sangat berbeda dengan kehidupan akhirat (tempat tinggal yang abadi dan penuh dengan kenikmatan yang abadi). Di dalamnya ada sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Sesuatu itu hanya untuk orang-orang yang beriman yang benar dan jujur. Ukhtii al-Muslimah… Seandainya dunia ini bersih dari kotoran dan terbebas dari musibah (dan itu mustahil terjadi). Maka hanya dengan mengingat kematian, manis dunia berubah menjadi pahit, nikmat-nikmat dunia yang banyak menjadi sedikit, umur dunia yang lama menjadi sebentar, dan kesucian dunia menjadi keruh. Ini tentunya jika manusia sanggup menjamin dirinya hidup dengan umur yang panjang. Kenyataannya manusia itu, jika dia hidup di pagi hari, dia merasa khawatir tidak bisa lagi sampai di sore harinya, begitu juga sebaliknya. Jika ditimpa musibah, maka merasa takut kehilangan kerabat-kerabatnya dan kematian teman-temannya. Ketika merasa sakit pada salah satu anggota tubuhnya, atau hatinya ditimpa kehawatiran-kekhawatiran, atau merasa nafsu makannya berkurang, maka terbayanglah wajah kematian di hadapan orang-orang yang melihatnya. Dia pun terlihat begitu ketakutan sehingga sakitnya semakin bertambah dan semakin dirundung kesedihan. Seolah-olah rasa takut itu akan menghalangi dan menjauhkannya dari kematian yang akan menjemputnya. Wahai manusia yang sangat lemah, hina dan rendah. Engkau melihat dia sebagai pemuda yang hidupnya sempurna, sangat gagah, wajahnya berseri-seri, semangatnya tinggi, dan tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Tetapi tidak lama kemudian, tiba-tiba berubah menjadi orang yang sudah tua, semangatnya menurun dan kerjanya pun sedikit. Engkau juga bisa melihat orang kaya yang tinggal di istana yang megah, naik mobil mewah, duduk di atas kasur yang empuk. Tiba-tiba, hari-hari kemewahan itu berbalik menjadi kehidupan yang berbeda dari yang sebelumnya. Dia tinggal di tempat yang jauh lebih jelek dari sebelumnya, naik kendaraan yang jelek, memakai baju yang tidak layak pakai karena sangat jeleknya dan memakan makanan yang semestinya tidak dimakan olehnya. Sesungguhnya kelezatan dunia dan keindahannya, nilai kebahagiaan dan kesempurnaannya tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada Allah swt. Yaitu keta’atan yang tidak akan membebani manusia sedikitpun kecuali istiqomah dalam melaksanakan perintah Allah dan dalam menempuh jalan-Nya. Sehingga manusia itu bisa hidup di dunia dengan hati dan jiwa yang tenang dan bahagia, wajahnya selalu ceria, dia memaafkan orang yang mendzaliminya, mema’afkan orang yang berbuat jahat kepadanya, menyayangi yang muda dan menghormati yang lebih tua. Dia selalu membantu orang lain, selalu melayani mereka dan ikut merasakan sakit atas penderitaan orang lain. Dia juga tidak melalaikan amalan yang kecil maupun yang besar. Bahkan sangat bersemangat dalam melakukan amalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Jika ditimpa musibah, dia menghadapinya dengan sabar dan ridha. Jika kematian datang menjemputnya, maka dia melihat itu sebagai wujud penyelesaian dari fitnah dunia dan menganggap sebagai rihlah menuju negeri abadi (akhirat). Diterjemahkan dari kitab Khomsuuna Zahrotan min Haqlin Nushhi by : JAM **Sumber : http://abnajmuzakki.blogspot.com/2010/02/renungan-untuk-para-muslimah_25.html Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah….. Oleh : Vicky Robiyanto Dua

About hajrahmich

seseorang yang ingin menjadi perempuan akhir zaman berusaha untuk menjadi shalehah,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: