RSS Feed

POETRY FROM RUMI

Jika kau bukan seorang pecinta, jangan

pandang hidupmu adalah hidup.

Sebab, tanpa cinta segala perbuatan tidak

akan dihitung pada hari perhitungan

nanti.

Setiap waktu yang berlalu tanpa cinta, akan

menjelma menjadi wajah memalukan di

hadapan Tuhan.

 


Rahasia kegilaan adalah sumber akal.

Seorang dewasa gila karena cinta.

Ia yang bersama Hatinya seribu kali lebih

kuat dari dirinya sendiri

 


Mati tanpa cinta adalah kematian yang

terburuk dari segala kematian.

Tahukah mengapa tiram bergetar?

Tentu karena mutiara

 

 

Cinta Tuhan terangi hati dan jadikan para

pecinta terjaga sepanjang malam.

Wahai kawan, jika kau seorang pecinta

jadilah seperti lilin.

Larut di sepanjang malam, membara hingga

pagi datang!

Dia bagai cuaca beku di musim panas,

bukanlah seorang pecinta. Di tengah

musim panas, hati seorang pecinta

membakar musim gugur.

Wahai kawan, jika kau pendam cinta yang

ingin kau nyatakan teriaklah seperti

seorang pecinta! Tapi jika kau

terbelenggu nafsu, jangan nyatakan

sesuatu pada cinta.

 


Pilihlah cinta.

Ya cinta!

Tanpa manisnya cinta, hidup ini adalah

beban.

Tentu engkau telah merasakannya.

 

Para Pecinta

 

Kepala-Mu pening karena aku.

Pukullah aku kalau begitu

Kau tahu aku tak ingin hidup tanpa diri-Mu

Bagiku lebih baik mati daripada pengusiran

ini

Demi Allah

yang membangkitkan kembali orang-orang

mati.

Sama sekali tak mungkin percaya aku

Bahwa Kau berpaling dari hamba-Mu

Selalu kukatakan ucapan yang dilontarkan

musuh-musuhku

Hanya rekaan dusta semata.

Kau jiwaku dan tanpa jiwaku

Bagaimana mesti hidup aku

Kau mataku tanpa Kau

Aku tak punya mata untuk melihat sesuatu.

 


 

 

Pernyataan Cinta

 

Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata

Kusimpan kasih-Mu dalam dada

Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu

Segera saja bagai duri bakarlah aku.

Meskipun aku tenang, diam bagai ikan

Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan

Kau yang telah menutup rapat dalam bibirku

Tariklah misaiku dalam dekat-Mu.

Apakah maksud-Mu?

Mana aku tahu?

Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam

iringan ini selalu.

Kukunyah lagi menahan kepedihan

Mengenangmu bagai unta memamah biak makanan

Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.

Meskipun aku tinggal bersembunyi dan tidak bicara

Di hadirat kasih aku jelas dan nyata.

Aku bagai benih di bawah tanah

Aku menanti tiada musim semi.

Hingga tanpa napasku sendiri

Aku dapat bernapas wangi

Dan tanpa kepalaku sendiri

Aku dapat membelai kepala lagi.

[membujuk yang tercinta)

About hajrahmich

seseorang yang ingin menjadi perempuan akhir zaman berusaha untuk menjadi shalehah,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: